E-Mandiri

Kehadiran Aparatur Desa

Ir. PURWANTO

Kepala Desa

Belum Hadir

EKO WAHYU PRASETYO

Sekretaris Desa

Belum Hadir

TRI HENDRA WIBOWO

Kasi Kesra

Belum Hadir

SUPRIYAMBODO

Kasi Pemerintahan

Belum Hadir

NOERNADIAH

Kasi Pelayanan

Belum Hadir

HANIM FAIZAH

Kaur Keuangan

Belum Hadir

BINTANG TRIDASYA RAMADHAN

Kaur Umum & Perencanaan

Belum Hadir

RUBADI

Kepala Dusun Kalijaring

Belum Hadir

MARSITO

Kepala Dusun Latsari

Belum Hadir

RUDI TRI HANDOYO

Kepala Dusun Kenongo

Belum Hadir

SUHADI

Kepala Dusun Clangap

Belum Hadir

MOHAMMAD HIDAYATTULLOH

Kepala Dusun Gedang

Belum Hadir

NORA EKY SEPTYANA

Kepala Dusun Mlirip

Belum Hadir

BRIPTU WISNU PONCONUGROHO

Bhabinkamtibmas

Belum Hadir

HARI SUYANTO

Bhabinsa

Belum Hadir

M.SAHRI

Staf kebersihan

Belum Hadir

Statistik Pengunjung

Hari ini:125
Kemarin:167
Total:88.240
Sistem Operasi:Unknown Platform
IP Address:3.238.98.39
Browser:Tidak ditemukan

Pengaturan

Tampilan Box

Pilih Style Warna

Tampilan Full

Pilih Style Warna

Artikel / Berita

Komunitas Adat Majapahit Larung Sesaji di Sungai Brantas Guna Usir Covid-19

26 April 2020
318 Kali
Administrator

Humas Pemdes Mlirip  – Kominitas adat Majapahit di Mojokerto menggelar ritual larung sesaji di pinggir Sungai Brantas Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Larung sesaji tersebut berupa kepala sapi dan kambing yang dilarang ke sungai terpanjang di Provinsi Jawa Timur ini.

Dengan menggelar tikar di pinggir sungai, ritual larung sesaji dari lintas agama tersebut secara bergantian memimpin doa dengan cara yang berbeda beda-beda sesuai dengan keyakinan mereka masing-masing. Selain itu sejumlah sesajian, turut dihadirkan. Seperti kepala sapi, kambing, tumpeng dua warna, buah-buahan dan bunga.

Pemangku adat, Ki Probo Diningrat mengatakan, ritual larung sesaji tersebut tujuannya tak lain sebagai ikhtiar untuk menolak balak. Dimana saat ini Indonesia khususnya Mojokerto sedang dilanda bencana non alam yakni virus corona (Covid-19). “Sesaji ruatan murwoh kulo agung tujuannya hanya satu. Khusus morwoh kulo alam. Angin, Banyu, Geni, Lemah,” ungkapnya, Sabtu (25/4/2020).

Tujuannya, lanjut Ki Probo, untuk menolak sengkolo besar di dalam suatu negara karena saat ini alam sedang bergejolak. Sehingga ritual lewat paweton alam juga. Seperti menebar wewangian, membakar dupa dan menebar kembang. Sementara sesaji untuk ruating angin yakni menitralirsir wabah virus yang saat ini sedang berkembang ini.

“Kepala sapi dan kambing yang digunakan untuk ritual, tidak sembarangan sapi. Melainkan harus memenuhi kreteria untuk penolak balak yakni warnanya harus mulus. Dua simbol ini (kepala sapi dan kambing), sebagai penolak wabah besar dan menelolak wabah kecil,” tegasnya. [tin/suf]

*Sumber : https://beritajatim.com/

Kirim Komentar

Nama
Telp./HP
E-mail
Komentar
Isikan Jawaban

Komentar Facebook

Komentar Facebook

E-Mandiri

Desa Mlirip

Kecamatan Jetis
Kabupaten Mojokerto - Jawa Timur

Hubungi Perangkat Desa untuk mendapatkan PIN

Jumlah Penduduk

3831

LAKI-LAKI

3795

PEREMPUAN

7626

TOTAL